VIPDOMINO.CASINO | BANDAR POKER | BANDAR Q ONLINE | DOMINO 99 ONLINE | POKER ONLINE | CAPSA SUSUN | ADUQ
KENAKALAN SAAT MUDA (part 2)
KENAKALAN SAAT MUDA (part 2)
![]() |
| Agen KartuQQ |
VIPDOMINO.CASINO - Teng !! teng !! teng !!, bel sekolah berdentang.
“Hore, pulang cepet besok libur yes !”, gembira seorang pelajar, karena pulang lebih awal. Kepala sekolah, wakasek dan para guru segera berkumpul di suatu ruangan untuk rapat singkat menjelang Ebtanas. Pelajar/a berlarian keluar gerbang yg telah dibuka satpam. Para Guru juga tampaknya ingin pulang cepet, bertemu keluarga untuk merencanakan jalan-jalan esok harinya. Semua berlalu-lalang melewati pos jaga satpam, dimana sang penghuni kini sedang duduk di bangku sembari melempar senyum, Pak Mukidi namanya. Pak Kepala sekolah dan Wakasek yg terbiasa pulang paling akhir juga langsung pulang setelah usai rapat.
Sekolah terlihat sepi, walaupun masih ada beberapa siswa/i dengan berbagai keperluan masing-masing, untuk hari ini ibadah Jum’at ditiadakan. Sejak bubaran sekolah, Jessy meminta tolong dibelikan rokok, dia tau aku mau jajan di luar sekolah, kemudian dia pergi meninggalkanku cepet-cepet. Aku ke kamar mandi, berayahsan dengan Mang Trimin yg baru usai menyikat kloset. Dia mengedipkan sebelah mata, aku meleletkan lidah sembari menjulingkan mata yg ditanggapainya dengan sebuah cengiran. Baru saja mau ke kloset yg ada di dalem dan hendak menutup pintu, Mang Trimin mengganjal dengan kakinya mau turut masuk. Aku menolak namun dia memaksa, sedangkan aku sudah tak tahan mau kencing.
“Iih, ngapain sih Mang ?! nanti ada yg lihat !!” gerutuku.
“Tenang aja…udah Mamang kunci, udah sepi kok !” bujuknya terus mendorong.
“Jangan Mang…Miska ‘gag mau !” mintaku mencoba bertahan.
“Ayolah Neng geulis, secelup dua celup aja…” rayuan gombalnya.
(Muka lu ‘gag mungkin bingit…ada sejuta-dua juta celup !!), keluhku dalem hati.
“Mamang aah, Miska khan mau kencing !” protesku merengutkan muka, karena sudah kebelet.
Bukannya mendengar rengekan, dia malah semakin kuat mendorong tau aku mau kencing. Dikiranya tadi aku cuma ingin ganti baju, maka jadilah dorong-dorongan pintu yg semakin seru. Karena tenaga kita tak sebanding, masuklah Mamang ke dalem. Aku yg sudah tak tahan, langsung menaikkan rok dan menurunkan celana dalem. Berjongkok kencing di saksikan olehnya. Aneh benar…aku tak malu, tampaknya aku semakin terbiasa dengan perihal memalukan ini, bahkan merasa sexy dan horney melihat tatapan nanarnya.
Mang Trimin mengeluarkan burungnya dan mengocok di depanku sembari berjongkok pula. Edan, aku bergairah dengan ke-abnormalan ini. Aku usai kencing dan menyiram, dengan telaten kubilas keperempuanan sampai bersih, aku memang merawatnya apik. Sesudahnya, Mang Trimin bilang ingin bantu mengeringkan. Sebenarnya lebih tepat dikatakan menggerayang daripada mengeringkan, karena cuma bagian ‘itu-itu’ saja yg diusap. Mata-ku merem melek menerima kenakalan jarinya. Badanku menggelinjang nikmat, libido naik cepet, terlukis dari lembabnya lubang serta nafasku yg berat. Jemari itu mencelup ke dalem, mencari benda seperti kacang yg kemudian dipencet dan dipuntirnya. Bukan cuma itu, dia juga menciumi paha dan menelusurinya dengan lidah. Mang Trimin memang berada dibawah, jadi kepalanya sejajar dengan kakiku yg berjongkok.
“Neng Miska makin ca’em aja kalo lagi begini !” komentarnya, melihat mataku yg sayu akibat terangsang berat. Mang Trimin kemudian menarik keluar jari dan mengendusnya, dia menyeringai dan berkata.
“Neng Miska cepet bingit beceknya, liat nih”, dengan bangga dia memperlihatkan jarinya yg belepotan cairan bening di depan mukaku, lalu dijilat dengan rakus sampai bersih.
Aku menghembuskan nafas penuh gairah, merasa cantik dan sexy berpuloe-puloe kali lipat atas perlakuan udiknya. Dia menangkup bokongku dan membenamkan mukanya ke selangkanganku. Kemaluanku diseruputnya habis-habisan seperti orang kehausan, kujambak dia sekaligus berpegangan karena takut jatuh. Puas menjilat, dan lubangku dirasanya telah banjir lendir. Disuruhnya aku nungging menghadap tembok. Bleessh! desahan nikmat menggema sebagai awal tanda persebadanan, yg langsung dilanjutkan dengan sodokan-sodokan. Dengan kedua tangan, dia mengangkat rok belakang-ku untuk menambah pemandangan. Pipiku melekat pada tangan yg bersandar di dinding, kugigit-gigit kecil jari tangan dan mengerang sejadi-jadinya.
“Iya-aaaaahh…daleman Maang, Aawh !!”, dia menampar bokongku dengan gemas.
Mang Trimin senang mendengar pekikan-ku, makin getol saja dia menyodok. Semakin lama, tumpuan tanganku semakin turun, tak mampu lagi menahan beban badan dan gaharnya sodokan. Sampai-sampai, sebelah tanganku harus berpijak di lantai, yg otomatis bokongku semakin nungging dan tentunya Mang Trimin semakin merasa gagah menggauliku. Menuju klimaks, badanku ditariknya ke belakang dan dihempas ke depan sampai melekat di tembok dengan kaki berjinjit. Kita mengejang nikmat dan mendesah berdua sembari berpelukan, banyak sekali pejohnya kurasa. Tuntas ejaqulasi, seenaknya saja dia pergi. Kemaluan-ku diperlakukan bagai Bank air mani saja. Aku terpaksa membersihkannya lagi deh, kurapikan pakaian yg acak-acakan dan menuju luar sekolah dimana banyak penjaja makanan ringan.
Namun, baru saja membuka pintu kamar mandi. Aku mendengar geraman serak lelaki yg disahut erangan seorang wanita. Di kala itu, sekolah memang sudah sepi sepenuhnya. Aku menoleh, tak jauh kulihat Silvia sedang di doggy. Dia bertumpu pada kedua telapak tangan dan lututnya di lantai, roknya tersingkap ke punggung. Celdam biru muda bercorak polka dot putihnya sudah turun selutut. Lelaki di belakangnya yg sedang asyik menggenJesst tak lain adalah Pak Slamet (45 thn), dia tukang sapu sekolah berperut buncit. Posisinya setengah berdiri dan setengah berjongkok, dengan tangan mencengkram pinggang. Mukanya tersenyum cerah, sedang Silvia tertunduk lesu. Tak heran, dengan bebasnya ia melesakkan kemaluan dalem-dalem dan berulang kali. Kondisi itu membuat Silvia jalan merangkak, bergerak perlahan menjauhi sang lelaki. Tak suka karena menggangu kenikmatan, Pak Slamet menjambaknya kasar sebagai hukuman. Entah sudah berapa kali Silvia digarap sampai klimaks, yg terlihat pasti dari kelelahan di mukanya lebih dari satu kali.
Pak Slamet melepas jambakan, menarik kedua lengan Silvia kebelakang dan bergerak brutal maju mundur mencari ejaqulasinya. Badan Silvia sampai terpental-pental, rambutnya yg jatuh ke lantai tergerai awut-awutan. Dengan tiba-tiba, Pak Slamet menyodokkan kemaluan di kedaleman paling dasar menyentuh rahim. Badan gemuknya berkeloJesstan, sembari menggemeratakan gigi dan mencengkram erat lengan. Menggambarkan si perempuan tak diizinkan beranjak pergi sampai tuntas ejaqulasi. Silvia mendesah panjang, pasrah lubangnya dihujani mani. Kemaluan Silvia yg menggiurkan…menampung air mani yg menjijikkan…dari lelaki gemuk berprofesi rendahan…yg sama sekali tak menjankalon…tanpa kejelasan di masa depan. Mata mereka tampak redup, terlihat sekali mereka menikmati seks-nya. Terutama Pak Slamet, selain nikmat tentu bangga bisa menyenggama wanita muda Indo Kanada. Aku tak tau apa Silvia turut klimaks, yg pasti tukang sapu itu usai melampiaskan gairahnya. Puasnya tuntas, Pak Slamet menarik keluar kemaluan dan melepas cengkraman. Silvia mekemaluank seirama letupan, diteruskan badan yg jatuh ambruk tertelungkup. Pak Slamet berlutut di depan muka, minta dibersihkan dengan mulut, Silvia memenuhi hajat itu. Setelahnya, Pak Slamet membetulkan celana dan beranjak pergi tersenyum puas. Aku tak menyalahkannya, habis kita yg memancing di air keruh. Kuayahh sahabatku yg baru saja dibor habis-habisan, kasihan jalannya ngengkang.
Wajar saja sih, kemaluan sempitnya ditumbuki kemaluan gemuk. Tadi pagi sebelum bel masuk sekolah, keadaanku tak jauh beda. Kita ke kamar mandi, Silvia membersihkan sekaligus mendinginkan lubang yg serasa hangus digesek benda tumpul. Aku meninggalkannya, menuju luar sekolah. Pos satpam kulewati, Pak Mukidi melempar senyum. Heran, sejak sekolah usai, kulihat dia cuma duduk saja. Tak seperti biasanya yg suka berdiri memegangi pintu gerbang. Tambahan lagi mukanya itu, sesekali meringis. Hatiku bertanya-tanya, (aneh ? ada apakah gerangan ?!). Sembari berpikir aku terus berjalan menuju tempat jajanan, sekolahku itu sedikit masuk ke dalem, jaraknya kira-kira 100 m. Jalanan yg kususuri cuma muat 1 boil dan 1 motor. Kalo ada 2 boil masuk berlawanan, maka harus ada salah satu yg mengalah. Kiri dan kanannya tembok berukuran tinggi, tanpa ada rumah masyarakat.
Sampailah aku di depan, rupanya disinilah semua berkumpul. Para siswa memang biasa nongkrong ditempat ini, jajanannya lebih lengkap dibanding kantin di dalem sekolah. Sejak sampai disitu, banyak mata mengarah padaku, terasa sekali aku seperti ditelanjangi, namun aku berusaha mengacuhkannya. Beberapa siswa biasanya nunggu Jum’atan. Tak lama kemudian, Adzan berkumandang. Mereka meninggalkan tempat ini, kontan beberapa penjual juga banyak yg pergi karena tak ada pembeli. Keperluanku adalah ke tukang es, yg sekarang ada di warung rokok sedang membeli Djarum Super. Pemilik warung rokok itu bernama Bang Entong, kepalanya plontos tanpa rambut sehelaipun alias mengkilap. Dia juga terbiasa melayani pemmudan rokok para siswa bahkan pelajar yg seharusnya dilarang keras. Untuk dirinya, sejauh itu menambah keuntungan, dia tak peduli dan siap memegang rahasia. Tukang Es yg usai bertransaksi, buru-buru lari ke gerobaknya melihat ada pembeli.
“Eh, Neng Miska…es nong-nong yah ?”, tanya lelaki berambut keriting yg mengenakan topi pancing.
“Iya, Bang Pi’ak …satu yah !”.
“Neng Miska kelas tiga ya ? wah, sebentar lagi Bapak kehilangan dong” godanya, sembari menyendok es ke sebuah cone.
“Hihihi ya gitu deh…masa disini terus, khan pengen pakai putih abu-abu Pak !” sahutku.
“Hahaha iya ya, nih es-nya…”
“Nih Pak, ambil aja ya kembaliannya !” kataku seraya tersenyum manis.
“Waah, makasih Neng…ck ck ck, udah cantik, baik lagi…beruntung nih pacarnya”.
(Sial…jadi inget Febry gw, bodo ah !), keluhku dalem hati.
“Makasih ya Pak !” sahutku, berlalu meninggalkannya.
“Sama-sama Neng…”balasnya dari kejauhan.
(Mmm…enak bingit panas-panas gini ma’em es…Nyam-nyam ^o^).
Aku tiba di gerbang, Pak Mukidi masih saja duduk di pos satpam dengan posisi sama, yg semakin membuatku keheranan saja. Aku masuk lebih dalem, tak jauh kulihat Silvia dan ‘ya ampuun…!’, aku menggeleng kepala melihatnya dikerjai lagi. Dia yg sedang sibuk menggembol dua tas (tasnya dan tas Jessy) sebelah tangan, dipaksa berlutut oral sex. Silvia melempar pandangan ke arah-ku dengan mulut dipenuhi kemaluan, tangan satunya dipakai Mang Trimin mengocok kemaluannya. Mereka tau kehadiranku, Pak Slamet melambaikan tangan mengajakku bergabung. Kali ini aku menolak tak mau turutan, bukan tak mau membantu, namun sedang menikmati makanan, khan eneg juga. Aku menggeleng kepala, mengangkat Es di tangan, mengatakan secara tak langsung bahwa sedang makan dan tak turutan dulu.
Dia mengerti, walaupun di mukanya terlihat guratan kecewa. Kekesalannya, dilampiaskan dengan menggunakan mulut bagai kemaluan lonte saja. Maju mundur seenak beruknya, sampai muka terbenam di kerimbunan bulu kemaluan. Silvia tersedak, tangannya mendorong perut yg terus mendesak agar menjaga jarak. Pak Slamet mencabut kemaluan dan mengocoknya sendiri bersamaan Mang Trimin. Silvia bisa bernafas lega, walaupun masih terbatuk-batuk karena tenggorokannya berulang kali di colok kemaluan.
Mereka mengerang dengan kepala mendongag, Silvia yg sudah pasrah mengibaskan rambut, menjulurkan lidah sembari mendesah. CROOOTTTS !! Cairan putih pekat, kental dan berbau khas memancar dengan deras. Baju dan tas mau tak mau kecipratan, bahkan rambutpun juga. Kedua bandot nampak geram menembaki muka dengan air mani. Muka Silvia yg belepotan ditertawakan mereka berdua, diratakannya mani sampai mengkilap. Setelah itu menarik reseleting, dan pergi begitu saja. Silvia yg sudah terbiasa dengan keadaan itu, berjalan ke kamar mandi hendak mencuci muka setelah menitipkan tas padaku sebelumnya. Tak lama, dia kembali dengan muka segar. Silvia meminta kembali kedua tas karena aku sedang menggenggam es.
“Mis…lo liat Jessy gag ?” tanyanya.
“Enggag tuh, Leph leph..tadi sih ada, dia nitip rokok trus ngacir tau kemana Leph leph btw, sori ya tadi ga bantuin nyepong Leph leph !” jawabku sembari terus menjilat Es.
“Engga papa, gimana sih…katanya ‘gag lama-lama disini, Uuuh..” keluh Silvia.
“Hus Sil, di rambut tuh !” tunjukku, pada cairan putih pekat yg membercak.
“Apaan..oh, iya nih…dasar Slamet gendut !” gerutunya muna, dia menyeka kemudian dijilat juga itu air mani.
“Leph, Aah…lo ngeluh namun ditelen juga tuh pejoh hihihi Week !!” ledekku.
“Hihihi Iiiihh…”, dia tertawa jahat kemudian mencubit lenganku.
“Aduduh…!”.
“Hihihi, rasain !” katanya menyukuri.
“Uuuh…atit tauk !!” aku mengeluh sakit, karena cubitannya membiru di lengan.
“Iya iya maaf…mana-mana sini !” Silvia menarik lenganku dan Leeph..!!.
Syuurr…!, darah di badan berdesir ketika lenganku dijilatnya sembari melihatku. Aku pun balik melihat, kita bertukar pandang beberapa ketika.
“Hayoo, Miska mikir apa ?!” godanya.
“Iiiih…nyebelin !” kucubit dia sebab mengganggu fantasy, pipiku merona karenanya.
Kita akui, kita bukanlah wanita yg sepenuhnya straight. Sejak seringkali berpetualang sex bersama, kita suka tergoda untuk lesbian bertiga, walaupun tak ada niatan menjurus serk/ius kesana.
“Aduduh, sakit tau…enak tuh !” kata Silvia tertarik es-ku, ketika itu memang terik sekali jadi makan es pas betul momentnya.
“Beli aja tuh di depan, masih ada Abangnya…sekalian deh yuk, gw juga lupa mau beliin Jessy rokok !” ajakku.
Kita pun berjalan dengan riang bersama menuju luar sekolah, melalui pos satpam. Lagi-lagi, Pak Mukidi masih dalem posisi duduk yg sama, aneh ?. Ternyata, bukan cuma aku, Silvia pun juga merasakan perihal yg sama.
“Pak Mukidi, lihat Jessy ‘gag ?” tanya Silvia. Muka lelaki itu terlihat seperti sedang dilanda gairah, mulutnya membuka berusaha mengeluarkan kata-kata.
“Diii..di Oookh !! Ohookhh !!”, dia medesah.
Badan hitamnya yg tegap mengejat nikmat, tangannya yg tadi di atas meja turun ke bawah yg tak terlihat dari luar karena terperihalang oleh tembok. Aku dan Silvia berlari kecil masuk ke pos itu dan Jongkok bersamaan.
“JESSY !!!” teriak kita.
Mukanya yg belepotan mani, tersenyum nakal sembari meleletkan lidah ke arah kita. Rupanya dia mengocok kemaluan Pak Mukidi dengan payudara di kolong meja sampai klimaks. Edan memang dunia, namun itulah yg terjadi apa adanya. Kedua sahabatku yg cantik-cantik itu, Silvia dengan bibir tipisnya, Jessy dengan sepasang payudara montoknya, sangat menyukai seks. Juga diriku, yg kini menjadi…‘kecanduan KEMALUAN !!’. Beruntunglah para lelaki buruk rupa, karena kita mudah diajak naik ranjang dengan lelaki model begitu, bahkan kita yg balik mengajak. Hypersex telah mengendap di jiwa dan merambah ke raga, We are…sex addicted !!.
“Gila lo Pak…lama bener ngecrotnya, sampe pegel payudara gw !” keluh Jessy asal.
“Fiuuh…maaf Neng, namun enak bingit lho kenyal…Heeh” komentar Pak Mukidi mendesah puas.
“Jessy…gw cariin dari tadi juga, eh..dia ngumpet di kolong nyepong !” gerutu Silvia dengan kata-kata kotor yg tak kalah asal.
“Hihihi sorry…slurph !” sahutnya, sembari menyeka mani di muka dan sekitar dada, lalu menjilat jarinya sendiri.
Dia keluar dari kolong meja, aku tersenyum melihat kelakuan mereka, seandainya kawan-kawan atau Guru melihatnya, tau deh ^o^.
“Jadi, sejak bubaran sekolah…lu di kolong ini Jess ?” tanyaku penasaran.
“Hihihi, yaph !” sahutnya ringan.
“Gila…‘gag takut apa, ke ‘gep sama siapa gitu ?”, tanya Silvia, meneruskan rasa penasaran kita.
“Yah, justru tegangnya ituu hehe tantangannya Bo !” jawabnya, kita cuma menggeleng kepala, salut dengan kenekatannya.
“Cabut yuk” ajak ku.
“Nanti ah, buru-buru amat…gw belum digauli, lo berdua kan pada udah !” protes Jessy.
Dia membangunkan Pak Mukidi yg masih menikmati ejakulasinya, merebahkan diri di kursi dengan menyandarkan kepala. Aku dan Silvia berlalu meninggalkan mereka. Sampailah kita di depan, rupanya sudah sepi. Tadi setidaaknya masih ada beberapa penjaja makanan, sekarang cuma tinggal tukang es tadi dan Bang Entong.
Esku habis, aku menuju warung membeli rokok untuk Jessy, sementara Silvia ke Pak Pi’ak beli es. Karena kepanasan, aku dan Silvia membuka kancing atas baju.
“Bang Entong…biasaa, A Mild Green hehe” kataku tersenyum seraya menyerahkan uang.
“O, hehe buat Neng Jessy ya ?” sahutnya sudah tau. Genk kita memang dikenal banyak orang, sampai-sampai penjaja makanan.
Setelah menyerahkan barter berupa uang dan rokok, aku menghampiri Silvia dan Pak Pi’ak yg sedang menyendok es.
“Udah ?” tanyaku, sembari menepuk-nepuk bungkus rokok ke telapak tangan.
“Nih…dikit lagi” kata Silvia tak sabar, sebenarnya pelayanan Pak Pi’ak tak biasanya lambat.
Faktor utamanya adalah karena dia membuka kancing dibawahnya satu lagi, sembari mengibas-ngibaskan tangan kepanasan. Muka manis, bibir tipis, tinggi putih sexy abis. Menjadikan Pak Pi’ak jelalatan hendak memakan pembelinya saja. Aku berpikir, apakah Silvia sengaja pamer ataukah tak.
“Ti, beliin Jessy juga deh ya satu !” suruhku, untuk memecah suasana.
Silvia dan Pak Muin sudah saling pandang soalnya, bisa berabe kalau mereka nekat ML di tempat umum gini. Pak Pi’ak sih tentu tak peduli, yg penting bisa ngentot. Aku berharap, sahabatku tak senekat itu.
“Satu lagi ya Pak, cepet !” suruh Silvia.
Kata-katanya sudah benar, namun kelakuannya itu ‘aduh !’. Malah semakin melebarkan baju yg sudah terbuka, ditambah acara garuk-garuk paha lagi, mentang-mentang paha putih mulus lagi jenjang.
Akhirnya Pak Pi’ak usai. Dia menyerahkan es pada Silvia dengan mata mencuri-curi pandang ke dada, yg sudah terlihat di balik Bra biru muda, serasi dengan LippGloss dan kutek di kukunya. Gilanya, Silvia menerima es sengaja menggenggam tangan Pak Pi’ak. Kontan Pi’ak Jr. pun bangun, di tengah hari bolong.
“Eh tumpah…” Silvia berakting.
“Sa-sa-satu lagi ?”, Pak Pi’ak langsung grogi dan tergagap, merasakan kehalusan telapak tangan Silvia.
“Iyah…Pakh, Emh Sssh”, Silvia menjawab dengan menggigit bibir bawah dan mendesah dengan muka sayu, sengaja menggoda.
Trek tek, tek, tek, tek !, tangan Pak Pi’ak gemetar, sampai sendok penyeruk es mengetuk gerobak yg terbuat dari seng. Aku menahan tawa, walaupun takut juga mereka bakal nekat. Sial, Silvia betul-betul bitchy. Dia sengaja menjilat es bagai menjilat kemaluan. Dijilatnya gagang Cone itu, lalu naik ke atas dan mencucup pucuk es. Dia melakukannya sembari berjalan mendekati Pak Pi’ak, tadi dia di seberang gerobak. Setelah berada disampingnya, dia menaruh kedua tas di bangku panjang yg biasanya untuk pembeli duduk, lalu pura-pura melihat ke tempat es. Tangan Pak Pi’ak yg gemetar, terus menyendok es sekenanya. Namun alhasil, es itu cuma tersendoki setengah dan belepotan tak karuan karena tak konsen. Dia lagi fokus memandang dada, mempelototi bibir juga lidah yg meliuk nakal. Tangannya yg bergetar bagai gempa bumi, memberikanku es yg tak berbentuk. Aku yg bingung mau berkata apa terpaksa menerimanya, sesampai kedua tanganku kini penuh dengan rokok dan es.
“Pak Pi’ak…leph leph, es krimnyah..enak Leph !”, goda Silvia, melakukan jilatan maut pada pucuk es.
“Sil..Sil, jangan gila deh lo !” kataku memperingatkan, namun diacuhkannya.
(Heh, dasar lebai…digauliin sampe kelenger baru tau loh !), keluhku.
Silvia sudah dilanda gairah, dia meng-exibisioniskan diri. Kemaluannya pasti ‘gatel’ ingin disodok kemaluan. Aku, walaupun dag dig dug, horney juga membayangkan terjadi di tempat umum, seperti yg dilakukan Jessy tadi.
“Pak, eMmhh…kriuk, Es-nyah Ssshh, enakhh kriuk !!”, goda Silvia lagi, kali ini gigitan-gigitan kecil pada cone.
Clang !!, Pak Pi’ak melempar sendok pengeruk es ke gerobak, lalu menarik rok sampai Silvia tertarik ke arahnya.
Mmppff !!” erang Silvia teredam, es-nya jatuh. Pak Pi’ak menciumnya penuh gairah karena sudah tak tahan. (Nah lho kejadian, rasain hihihi…), aku tertawa dalem hati menyukuri.
Mata Silvia yg jelita terbelalak, kedua pipinya ditangkup erat agar kuluman tak bisa terlepas. Bibirnya yg mungil dilumat habis-habisan bibir hitam Pak Pi’ak, seolah-olah ingin ditelannya. Pak Pi’ak mendesak ke bangku panjang masih dalem keadaan memagut. Silvia memukul-mukul kecil pundak Pak Pi’ak untuk menaikkan harga diri, padahal berharap lebih jauh. Silvia pun jatuh terduduk di bangku itu, tangan Pak Pi’ak langsung menerobos masuk ke dalem rok, menarik celdam polka dotnya turun selutut. Sruuut !!.
“Kyaaa…!!”, reaksi Silvia spontan, pura-pura terkejut.
Karena bangku tipis, Silvia terpaksa berpegangan di pinggirannya. Pak Pi’ak menaikkan kaki Silvia ke bahunya, kepalanya menyuruk ke selangkangan. Terdengarlah suara raqus seruputan beberapa detik kemudian.
Silvia mengerang nikmat dengan nada tinggi, badannya mengejang seperti tersetrum listrik ribuan volt. Kemaluannya jadi objek mainan mulut hitam dan lidah kasat tukang es nong-nong. Aku horney sekali melihat adegan itu, Namuni…
(Ya ampuun, ini khan tempat terbuka !!), aku tersadar. Walaupun jalanan sunyi sepi, tetep saja beresiko tinggi.
“Sil…Pak Pi’ak, ini tempat umum oi !! Jangan disini kalo mau terus !!”, nasihatku, yg tak digubris oleh mereka. Silvia mendorong kepala penjilat kemaluannya cuma setengah hati, aku menggeleng kepala namun memaklumi karena pasti enak rasanya.
Silvia enak..Pak Pi’ak konak. Silvia senang Pak Pi’ak pun kenyang. Mereka betina dan lelaki, yg saling membutuhkan dan memuaskan pasangan. Sungguh Simbisios mutualisme yg menghangatkan.
Tiba-tiba, aku merasa rok belakangku disingkap seseorang dan bokongku diremas gemas. Aku menoleh, (Aargh…Bang Entong !!, what the Hell is he doing ?). Aku melengoskan bokong, menghindar dari serangan mesum pemilik warung rokok itu. Sayang tak membuahkan, sebab tanganku masih memegang rokok dan es. Aku buru-buru menjatuhkan es dan mengantungi rokok, agar kedua tangan bebas dan bisa menepisnya.
Terlambat !, dia mendorongku sampai tersudut ke gerobak, lalu menyingkap rok belakang tinggi-tinggi. Otomatis, dia melihat celana dalemku yg bernuansa kartun.
“Whua, kancut Neng Miska ada gambar mini mousenya hehe” ejeknya, mukaku langsung merona merah.
Tanpa membuang waktu, dia menariknya turun selutut, lalu meraih tasku. Aku yg juga sudah horney, pasrah menuruti apa maunya. Dia melempar tasku asal ke bangku, dimana Silvia lagi mendesah sembari mengangkang, berturut tukang es di selangkangan. Untung Silvia menangkapnya, sesampai tak jatuh dan kotor.
Kini keadaanku sama dengan Silvia, entah dengan Jessy di dalem. Lelakiku dan lelaki Silvia bersamaan menyeruput. Sama menjilat dan sama mencelup kemaluan dengan jari mereka yg nakal. Cuma saja, Silvia diserang dari depan, aku dari belakang. Darahku berdesir, ketika lidah menyapu telak paha belakang dan mengecup pipi bokong. Gigiku menggigit bibir bawah menerima cumbuan itu. Aku yg menghadap ke jalan, merasa lebih was-was, takut ada orang yg datang. Pada ketika itu memang Jum’atan telah dimulai, namun tetep saja aku kuatir. Rasa kekuatiranku pun terjawab.
‘Brrrm..!’, sebuah mobiil mendekat dan menepi. Aku yg melihatnya tegas, refleks berteriak.
“Silvi, mobiil Pak Wandi !!”, mata Silvia yg tadinya sayu, mendadak terbelalak mendengar nama
‘Wandi’ yg diketauinya sebagai Bapak Kepala Sekolah kita.
“Shiit !” umpatnya juga refleks. Kini dia sepenuh hati mendorong kepala Pak Pi’ak yg bahagia membenam di selangkangannya.
Aku juga mendorong kepala Bang Entong sekuat tenaga, lalu bersama Silvia Jongkok bersembunyi di balik gerobak es. Muka Bang Entong dan Pak Pi’ak langsung BT, tentu mereka tak peduli siapapun yg datang karena menggangu kenikmatannya. Dengan sangat terpaksa, Pak Pi’ak kembali ke gerobaknya. Bang Entong yg masih saja Jongkok, kupaksa berdiri juga. Sedikit banyak, bisa untuk mengperihalangi badan kita dan mengalihkan perhatian Pak Kepala sekolah dengan obrolan.
“Eh Pak Wandi…tumben Pak ?!” sapa Bang Entong pura-pura ramah, padahal kesal dalem hati dengan kehadirannya. Pak Pi’ak turut tersenyum munafik.
“Iya nih, ada dokumen yg tertinggal…ya udah, skalian Jum’atan dekat sini” terangnya.
(O’ow…Jessy masih di dalem school, lagi digauli…), hatiku kalut.
“Sama keluarga Pak ?” tanya Pak Pi’ak, melihat seorang perempuan dan anak kecil di mobbil.
“Iya nih, tadi mau langsung jalan..” sahutnya.
“Ayah-ayah…mau itu !” pinta si bocah dengan suara lucu dari jendela boil yg terbuka, menunjuk ke gerobak es.
“Mau es honey, Mm ? cium ayah dulu dong…” goda Pak Kepala sekolah, sang Ayah.
“Ayo honey, cium Ayah dong !” suruh perempuan penggendong si bocah, yg tak lain Istri Pak Kepala sekolah.
“Cuph !!” cium si bocah, sang Ayah pun tersenyum dan membalas cium, lalu mencium dahi Istrinya.
(Aduuh…lama bingit sih !!), keluhku.
Diketika kaki kita mulai kesemutan, mereka berdua membuka reseleting, menyodorkan kemaluan minta di blow job. Reaksi-ku sama dengan Silvia, yakni melengos. Namun dengan cekatan mereka memejet lubang hidung kita, sampai kehilangan oksigen. Mulut terbuka dan meluncurlah kemaluan burik mereka di bibir tipis kita, membuat mereka ternganga enak dan medesah ‘Ooookkh…!’.
“Es satu ya Pak !!”, Pak Kepala sekolah memesan.
Jantung kita langsung berdegup kencang. Bagaimana tidak ? aku dan Silvia mengoral di dekat Pak Kepala sekolah, memang ada sensasi tersendiri. Namun jantung serasa berhenti, ketika mendengar kata-kata selanjutnya.
“Lho, inikan tas Silvia, Jessy sama Miska ?!” tandas Pak Kepala sekolah dengan suara keras.
Deg !, aku dan Silvia berhenti menghisap kemaluan saling melirik. Namun Bang Entong dan Pak Pi’ak langsung menjambak, memberi kode untuk tetep melanjutkan sepongan.
“Nakal ya tuh anak pada, bukannya langsung pulang !!” gerutunya.
“Iya Pak, anak wanita sekarang memang pada nakal-nakal hehe” sahut Bang Entong kurang ajar, sembari memaju mundurkan kepalaku.
“Pada liat Pak, tuh anak kemana ?”
“Engga tau Pak, tadi sih memang nitip tas…” kilah Bang Entong, Pak Pi’ak lebih memilih diam menikmati sepongan sembari terus menyendok es.
“Oo, gitu…”, Pak Kepala sekolah mengeluarkan dompet dari kantung celana.
“Nih Pak Pi’ak, ambil aja kembaliannya…es-nya kasih anak saya di mobbil !”.
“Iya Pak makasih…”.
Pak Kepala sekolah jalan ke boil dan berbicara sesuatu pada Istrinya. Kemudian berjalan cepet masuk ke gang, menuju sekolah. Untung dia tak menoleh ke samping, karena kita bisa terlihat olehnya sedang berlutut mengoral Abang-abang, bisa ribet khan ?.
(Shiit !! gimana nih si Jessy…musti diperingatin !!), arti pandanganku pada Silvia yg bertemu di satu titik.
Pak Pi’ak terpaksa menarik keluar kemaluan dari bibir sexy Silvia, untuk menyerahkan es. bunyi mobiil distarter, beberapa ketika setelah Pak Pi’ak kembali. Silvia mengintip dari balik gerobak, lalu berkata padaku.
‘Mis, amaan…yuk nyusul Jessy !’, bisiknya.
Rupanya, mobil dipindahi Istri Pak Kepala sekolah ke tempat yg lebih rindang untuk di parkir, yg untungnya jauh. Jadi ada kesempatan bagi kita menyelinap masuk, menyusul Pak Kepala sekolah sebelum memergoki Jessy.
“Mmppff…Aaah tahan dulu Bang, saya mau nyusul Jessy ke dalem !!” pintaku.
“Alaah tanggung Neng…bikin ngecrot dulu dong !” protes Bang Entong.
“Please Pak…kalo Jessy ketangkep Pak Wandi, bisa dikeluarin dia !” sahutku.
“Emang lagi ngapain di dalem sampe dikeluarin ?” tanyanya penasaran.
“Lagi…Mmm……”, aku agag ragu untuk meneruskan.
“Lagi apa Neng, hah ?” tanyanya lagi semakin penasaran.
“Lagi gituan juga” jelasku singkat, sembari menggaruk muka tak enak, terpaksa membuka rahasia agar bisa cepet.
“Weleh, seru nih heheh..udah saya duga Neng Jessy bisa dipakai juga” leceh Bang Entong, mereka berdua tertawa kurang ajar.
“Ya udah, kita ke dalem dulu ya Pak…” kataku, Silvia mengambil tas kita, namun tiba-tiba direbut Bang Entong.
“Bang, apa-apaan ?!” protesku dan Silvia bersamaan.
“Kalo nyusul ya nyusul Neng…tasnya taro disini aja !, nanti abis usai urusan, balik kesini lagi terusin…khan belum ngerasain kemaluan , ‘tul engga Pak ?” ujar Bang Entong, menjadikan tas sebagai jaminan, karena takut kita tak melayani gairah binatangnya nanti.
“Iya betul, sekalian bawa Neng Jessy…saya udah lama naksir, itu anak kecil-kecil namun badannya…whuihh, engga kalah sama anak SMA…bahenol huehehe”.
“Ya udah kalo gitu…ayo Sil, cepet !!” kataku panik.
Kita pun segera berlari menyusul Pak Kepala sekolah, aku memberitau Silvia untuk menahan sebisanya dengan mengajak bicara ngelantur ke perihal apa saja.
(Itu dia…), aku memandang Silvia, dia mengangguk seakan-akan berkata ‘serahkan saja padaku’.
“Pak Wandi…” sapa kita berdua dengan suara manja, ia pun menoleh dan menghentikan langkahnya.
(Fiuhh…syukurlah, jadi sempet kalo gini…).
“Eh…kalian…bandel ya, kenapa belum pulang ?!” gerutunya, namun tak dengan tingkat keseriusan tinggi.
“itu Pak, Jessy lagi kebelakang…kata dia nyeri, biasa pak urusan perempuan…” kilahku, mengarang tentang menstruasi.
“Oh, gitu…” sahutnya, kembali berjalan.
(Gawat !!!).
“Pak, aku duluan ya…takut ada apa-apa sama Jessy..”, aku langsung berlari secepet kilat meninggalkan mereka berdua.
Pak Wandi melongo bingung melihat keanehanku, karena boleh dibilang sikapku itu tak sopan. Namun aku tak punya pilihan, daripada Jessy ribet. Akhirnya aku sampai di pintu gerbang. Betul saja, di dalem pos satpam, Jessy sedang foursome. Dia menaik turunkan badan mengendarai kemaluan Pak Slamet, kedua tangannya mengocok kemaluan Mang Trimin di kiri dan Pak Mukidi di kanannya.
“Eh-eh, ada pak Wandi mau kesini !!!” kataku memperingatkan dengan muka panik.
“HAH, PAK Wandiii…?!!”, sahut mereka semua terkejut berbarengan, stop aktivitas seks bersamaan.
Hiyaa…Jessy langsung melepaskan diri, ketiga petugas sekolah itu kocar-kacir mencari pakaian yg berceceran, sampai-sampai Pak Slamet yg gendut tertukar celana dengan Mang Trimin yg kurus. Mereka berpakaian seadanya, lalu lari bersembunyi di tempat terdekat. Jessy mengatur nafasnya yg terputus-putus, kita berdua dan Pak Mukidi yg masih di pos melihat Pak Kepala sekolah bersama Silvia ngobrol mendekati pintu gerbang.
“Eh Pak Mukidi, Jessy…kamu engga apa-apa ? kalo sakit cepet pulang !”.
“Iya Pak, ini mauh…pulangh…” sahut Jessy masih terengah-engah, melihat ke arahku dengan muka tak mengerti dibilang sakit apa.
“Pak Mukidi, anter saya ke ruangan saya !!”.
“Baik Pak !”.
Mereka berdua beranjak pergi meninggalkan kita. Pak Slamet dan Mang Trimin yg bersembunyi tak jauh, keluar dari tempat persembunyian untuk bertukar celana. Tak lama, Pak Kepala sekolah dan Pak Mukidi tampak sudah usai dengan kepentingannya dan mendekat.
“Ayo Miska, Silvia, Jessy…pulang !!” perintah Pak Wandi, agar keluar sekolah bersama.
Pak Slamet tampak kesal sekali, namun dia tak bisa apa-apa. Maninya tentu sudah di ujung kepala kemaluan, sedang berbaris. Kita meleletkan lidah ke arahnya, juga Mang Trimin dan Pak Mukidi untuk meledek mereka, meskipun Jessy juga ‘tanggung’. Kita selamat, untuk sementara, sebab di luar telah ada dua predator kemaluan yg juga ‘pengen’. Bersama Pak Kepala sekolah kita ngobrol selama perjalanan, membahas tentang EBTANAS yg akan berlangsung tak lama lagi.
(Oya…), pikirku, yg kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Silvia.
‘Sil, si Jessy khan lagi engga bawa mobil…bujuk Pak Wandi biar kita numpang mob’ilnya, gw horney namun lagi gag mood nih…ngelayanin Bang Entong’, bujukku berbisik.
‘Yo’i deh…gue juga cuma iseng aja sih tadi’, balasnya juga berbisik.
“Kalian…mau kemana ?” tanya Pak Kepala sekolah tiba-tiba.
(Wah…pucuk dicinta ulam tiba), pikirku.
“Kita mau ke Tebet Pak, rumah Jessy !” sahutku cekatan, sebelum dia berubah pikiran.
“O, ya udah kalo gitu numpang Bapak aja…kebetulan lewat kok !”.
(Yes !), aku dan Silvia toss five saking senangnya, Jessy bingung.
“Kenapa kalian ?”, Pak Kepala sekolah juga tak mengerti.
“Em..engga Pak, seneng aja uang ongkos utuh hehehe” kilahku tersenyum, Pak Wandi juga tersenyum mendengarnya, sampai dia semakin handsome saja ^o^ xixixi.
Sampai di depan, terlihat Pak Pi’ak duduk dengan Bang Entong, mengapit tas sekolah kita bertiga. Mereka memasang muka seramah mungkin karena ada Pak Kepala sekolah.
“Ayo, bawa tas kalian !” suruh Pak Wandi, di depan Bang Entong dan Pak Pi’ak.
Muka mereka kontan berubah, terutama ketika aku ingin mengambil tas, merasa sekali dipermainkan.
‘Pak, jangan sekarang pliis…kita disuruh bareng, besok-besok aja ya’ mintaku dengan suara kecil, sebab tas tak dibiarkan lepas olehnya, Silvia turut meminta. Jessy baru mengerti sekarang, kenapa kita tadi toss five.
“AYO, TUNGGU APA LAGI !!” teriak Pak Kepala sekolah, yg hampir tak dapat Jum’atan.
Pak Pi’ak akhirnya melepaskan. Dengan muka tak enak, aku merayunya berjanji untuk melayani dia lain waktu. Kita masuk ke boil, di dalem berkenalan dengan Istri dan anaknya yg bawel lucu. Walaupun tak asing dengan muka Istrinya, namun baru kali ini kita ber-dialog langsung tatap muka. Halus sekali tutur katanya, tinggi bahasanya, dalem maknanya yg tersirat serta lembut dewasa ke-Ibuan. Boil berangkat, melalui kaca dari dalem kendaraan, kita melihat raut muka marah Pak Pi’ak dan Bang Entong. Besok-besoknya, kalolau kita pulang sekolah, mereka memaksa bersebadan dengan menyita tas. Berhubung nikmat, kita tak menolak.
Pak Kepala sekolah memarkirkan boil di sebuah Masjid, kita menunggu di dalem sembari terus ngobrol. Tak lama, banyak lelaki berlalu-lalang pakai sarung dan peci, tanda Jum’atan telah usai. Pak Kepala sekolah pun datang tak lama kemudian dan kita meneruskan perjalanan. Sesampainya di daerah Tebet, kita berterima kasih berpamitan dan melambaikan tangan. Kita makan siang sembari ngegosip di rumah Jessy, sorenya main Tennis masih di dalem komplek. Malam harinya seperti biasa, dugem di tempat favorit kita, MATABAR. Pulang-pulang, matahari malam telah tersenyum bulat lebar. Aku dan Jessy teler karena banyak menenggag minuman yg memabukkan. Silvia yg sedikit alim diantara kita, tak turutan teler.
Disamping dia kurang suka, juga untuk berjaga-jaga menyupir. Bisa tabrakan kalo Jessy yg mabuk menyupir kendaraan. Setibanya di rumahku, Silvia memapahku sendirian, karena Jessy pun juga sedang tidur di boil sehabis banyak muntah. Ayahh Bunda menggeleng kepala melihat kenakalanku di luar batas, Silvia pamit dengan muka tak enak. Mereka mencium bau alcohol dari nafasku, nyanyian metal pun terdengar. Namun honey, gerutuan masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Bunda memapahku ke kamar mandi cepet-cepet, melihatku menutup mulut dengan tangan. Benar saja, aku langsung muntah sesampainya di kloset.
Disedunya teh hangat, untukku memulihkan kondisi. Kurebahkan diri berselimutkan handuk, mencoba menutup kelopak mata. Samar-samar, aku mendengar pembincaraan Ayahh dan Bunda.
“Aduh, Miska-Miska…mau jadi apa ini anak !!” keluh Ibuku.
“Huuff…ya sudahlah, mau gimana lagi…mudah-mudahan dia cepet sadar dan suatu ketika jadi orang berhasil !” bela Ayahku sembari mendo’akan, perempuan yg mengandungku itu memang lebih keras dari suaminya.
“Cepet sadar gimana, makin hari makin nakal !”, Ayahku tak menyahut, cuma menghela nafas.
“Dia mustinya tau, orang tua lagi susah…uang menipis, pengeluaran harus terus !!” keluh Ibuku lagi.
“Ngomong-ngomong gimana Yah…urusan yg dibicarakan sama temen Ayahh ? Bunda khan belum tau kelanjutannya, abis tadi ngantuk bingit jadi aja duluan tidur”.
“Iyaa, ituu…jadii…Huuff…Syafa’at ngajak bikin perusahaan majalah”.
“Trus, sisa uang kita bakal kepakai berapa Pah ?”.
“Yaah, kemungkinan…¾-nya…”.
“Aduh…gag papa tuh Pah ? kayaknya beresiko deh…”.
“Ya mau gimana lagi…kalo uangnya disimpan terus juga bisa habis, mendingan kita buat usaha…”.
“Yaa…namun jangan sampai ¾ dong Paah, si Miska khan masih perjalanan panjang, butuh banyak biayaa…”.
“Iya, tadi sih Ayahh sudah nego…kata dia karena pemegang sahamnya engga ada lagi, ya jadi mau engga mau, atauu…dibatalkan aja ?”.
“Yaa…jangan juga, aduuh gimana yah…?”.
“Iya khan bingung…jaman susah, mau engga mau…gambling, mudah-mudahan berjalan lancar untuk Ayahh…Bunda…dan juga untuk anak kita tersayang, Miska…”.
Kata-kata itu yg terakhir kudengar dan kuingat selalu, sebelum terlelap menuju alam mimpi. Aku membalik badan, tak dapat kutahan laju air mata. Aku tau semua perbuatanku salah, namun masih kulakoni juga. Miska yg dulu menangis, tak ubahnya yg sekarang. Mata bulatku meneteskan air, menggenangi pipi sampai basah. Aku merasa bersalah sekali kepada mereka berdua.
(Ayahh-Bunda, maafkan anakmu ini…aku anak yg tak berbakti, cuma bisa menyenangkan hati, selalu menyusahkan dan melupakan bakti diri terhadap kalian yg telah membesarkanku sejauh ini…), kandungan kata curahan lubuk hati.
Tak terasa, waktupun berlalu begitu cepet. Kita usai EBTANAS dan mendapat hasil yg cukup lumayan. Menjelang ujian, kita mengatakan kepada para lelaki untuk tak mengganggu dulu karena ingin konsentrasi. Walaupun tetep saja, mereka nekat. Seperti Mang Trimin contohnya, dia memberi kode untuk ke kamar mandi disela-sela ujian, cuma untuk disuruh menyepong dan menelan pejoh amisnya. Sampai-sampai, Guru penjaga ujian curiga padaku. Namun semua itu telah berlalu, kita merayakannya dengan Shoping ke Mall, nonton di 21 dan makan di tempat tongkrongan ABG. Kita menghabiskan waktu TP sana-sini, cuma mengenakan tank top dan rok mini, sampai hari larut malam. BERSAMBUNG
KENAKALAN SAAT MUDA (part 1)
KENAKALAN SAAT MUDA (part 2)
KENAKALAN SAAT MUDA (part 1)
KENAKALAN SAAT MUDA (part 2)







0 komentar:
Posting Komentar